Fear is… (01-01-09)

Posted: Juni 1, 2010 in Mari Merenung!

Dalam kitab suci penganut agama islam tertulis bahwa manusia pasti akan diuji, dengan rasa takut, rasa lapar dan kekurangan harta, manusia lain, dan buah-buahan. Kali ini saya tertarik untuk menganalisa tentang rasa takut, apakah yang saya dan beberapa teman sharing saya alami merupakan sebuah ujian? Atau hanya sekedar kebimbangan hati…

Rasa takut merupakan reaksi psikologis alami makhluk hidup baik hewan atau manusia yang sebenarnya merupakan reaksi defensif terhadap lingkungan sekitarnya yang dianggap mengganggu eksistensi yang bersangkutan.

Reaksi yang indah, layaknya kita memiliki alarm hidup yang mengingatkan kita untuk tidak mendekati hal yang membahayakan diri, contoh? Paling sederhana, cabai itu nikmat, pecel lele tidak enak jika tidak ada cabainya, namanya saja akan berubah menjadi nasi lele…tapi coba kalau anda beli pada saya, dan saya beri cabai 8 buah di adonan sambal anda…anda pasti marah, atau paling tidak menegur saya, bahkan mungkin tidak jadi membeli karena anda pengidap penyakit maag/typhoid. Apa gerangan yang mendorong anda berlaku seperti itu? Ya..takut, khawatir, sehingga menjadi ragu bahkan tidak mengambil keputusan atas apa yang diinginkan.

Cerita lain yang terjadi pada sekelompok tikus penelitian untuk skripsi saya yang lalu, saya memiliki 3 kandang tikus terbuat dari plastik, masing-masing berisi 7 ekor tikus. Kandang ini ditutupi dengan lembaran anyaman kawat tipis supaya berongga dan mendapat cahaya cukup. Pada malam hari saat muncul kebiasaan iseng (seringkali saya menyebutnya “senang bereksperimen”, haha…) saya, saya main ke kandang di tempat pemeliharaan di kampus sekedar melihat-lihat keadaan penentu nasib skripsi saya.
Tikus-tikus itu masih pada tempatnya masing-masing, sehat, dan tidak ada yang hilang. Lalu saya memutuskan untuk kembali ke kos berhubung waktu sudah malam, dan sayapun mematikan lampu tempat pemeliharaan…seketika mata saya menangkap gerakan-gerakan kecil di kandang tikus-tikus itu, mereka yang tadinya tersebar di kandang berukuran 28×25 senti itu, mendadak berkumpul di satu sudut kandang, bertumpuk-tumpukan, dan seakan-akan mencari teman-temannya. Karena “senang bereksperimen”, saya nyalakan lagi lampu ruangan…dan yang terjadi adalah tikus-tikus itu menyebar kembali, melakukan apapun yang mereka lakukan. Lampu saya matikan lagi, dan berkumpullah mereka kembali di sudut kandang.
Saya pikir ini fenomena lucu…saya menanyakannya pada penjaga kandang sekaligus pemelihara hewan-hewan penelitian disana, Pak Heri namanya. Menurut Pak Heri, tikus putih adalah makhluk sosial, mirip perilaku manusia, ketika dalam gelap, mereka memilih untuk mencari sesamanya, untuk sekedar menepis rasa takutnya pada kegelapan…saya manggut-manggut tapi belum percaya…sampai saya melakukan penelitian di esok harinya.

Dalam penelitian saya, ekor tikus harus dipotong untuk menguji waktu perdarahannya. Karena pagi itu saya datang terlalu pagi, Pak Heri belum datang, saya memutuskan untuk memandangi tikus-tikus itu, mereka aktif sekali, lari kesana kemari, ber-cericit-ria. Lima menit kemudian Pak Heri datang dan mulailah penelitian saya. Satu tikus saya ambil dan dipotonglah ekornya, setelah data didapat, kesalahan saya saat itu adalah menyatukan tikus yang ekornya terpotong tadi dalam kandang semula bersama teman-temannya…apa yang terjadi? Cericit tadi hilang, yang berlarian di kandang menjadi menepi, berkumpul di sudut kandang lagi, dan membiarkan si “ekor putus” sendiri di seberang sudut lain…sejenak saya tetarik untuk mengamati mereka, lalu salah satu dari tikus yang berkumpul mendatangi si “ekor putus”, mengendus-endus luka yang saya buat padanya, dan akhirnya diikuti yang lainnya, mereka mengelilingi si “ekor putus” tanpa cericit, dan terlihat hanya mencoba melindungi dan menghapus rasa “takut” si “ekor putus”…benar kata Pak Heri…mereka makhluk sosial, dimana rasa takut mampu menyatukan mereka, ketika ketakutan itu datang, ketika itu pula mereka mencoba mengatasinya.

Coba bandingkan rasa takut pada pedasnya cabai tadi, dengan rasa takut yang dialami tikus-tikus itu…apakah ada beda? Menurut anda?

Menurut saya…ada…di kasus cabai tadi rasa takut merupakan ujian…apakah anda memilih kesehatan anda, atau memenuhi gejolak menu favorit…dan anda lulus ujian ketika anda memilih mendapatkan keuntungan dan keselamatan yang lebih banyak pada pilihan tidak membelinya atau membeli dengan jumlah cabai yang lebih sedikit.

Ketakutan yang dialami tikus-tikus itu merupakan kebutuhan sosial alami, dimana rasa itu ada sejak lahir dan berfungsi untuk melahirkan sifat-sifat seperti empati, simpati, peduli, membutuhkan, melindungi, kenyamanan, sayang, dan bahkan cinta.
Nah…Sekarang…

Ketika seseorang berpikiran bahwa pasangannya terlalu baik untuknya, dia terlalu sempurna untuk memenuhi tugas yang akan dia emban ketika kelak berumah-tangga, bahkan ia sempat berbuat kesalahan berulang padanya,sehingga muncullah rasa takut berupa…apakah benar dia orang yang tepat? Apakah ia memang mencintainya? Benarkah ia mampu membina keluarga bahagia dengannya kelak? Atau hanya kenyamanan semata…

Keraguan.

Disinilah ujian, ujian rasa takut…dan saya menjumpai beberapa teman yang mengizinkan saya mendengarkan cerita mereka yang hampir mirip satu sama lain dan identik dengan diatas sehingga mendorong saya menganalisanya…namun saya belum menjawabnya…hingga tulisan ini saya buat.

Teman, kalian diuji…kita diuji…manusia akan selalu diuji, it’s our destiny… rasa takut kita tentang hal itu, menentukan apa yang akan kita lakukan selanjutnya, apa yang terbaik untuk kita, semua pilihan ada di tangan kita…apa yang anda butuhkan? Apa yang saya inginkan? Apa kaitan masa lalu kita dengannya? Apa yang kita takutkan? Perlukah kekhawatiran kita padanya? Akankah dia aman…bahagia…kelak…

Saat ini hanya kalian yang tahu kebaikan apa saja yang akan kalian dapat atas warning yang diberikan oleh ketakutan kalian, dan kebaikan apa saja yang akan hilang…karena manusia hidup ingin bahagia dunia dan akhirat…kalkulasikan dengan bijak…amien…

Salam.

Komentar
  1. dika agung bakhtiar mengatakan:

    sebuah bahan yang bisa dijadikan renungan…coz people have their own fear….
    karena saya juga sedang dalam rasa takut yang tidak pernah berhenti slama 2 tahun ini,,hahaha,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s