Adab Terapis Syar’i (ditulis oleh Hidayatullah edisi khusus Thibbun Nabawi 2010)

Posted: Juni 8, 2010 in Mari Merenung!

Sewaktu dunia kedokteran di bawah kendali pemerintahan Islam, para ahli medis Muslim telah menyusun aturan dan kode etik untuk mereka. Tujuannya, memberikan rambu-rambu tentang apa yang harus dilakukan dan tak boleh dilakukan oleh seorang ahli medis Muslim dalam menjalankan praktik medisnya.

Berikut beberapa adab yang harus dimiliki oleh seorang terapis/ahli medis dalam menjalankan praktiknya.

  1. Sadar bahwa ia hanyalah perantara yang bertugas menyembuhkan dan tidak menganggap dirinya sebagai penyembuh hakiki. Penyembuh sebenarnya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT).
  2. Karena orang yang sakit sengaja menemui dan menaruh kepercayaan terhadapnya, para terapis/ahli medis harus memberikan pelayanan dan perlindungan yang terbaik bagi pasiennya.
  3. Memberikan resep yang tepat dan paling berkhasiat sesuai yang dibutuhkan. Ibnu Qoyyim berkata, “Tidak sepantasnya bagi seorang ahli medis dengan mudahnya memberi berbagai obat kepada para pasiennya. Sebab, jika obat-obatan tidak menemukan penyakit yang dapat dianalisanya dalam tubuh, atau mendapatkan ada penyakit, namun tidak cocok, ataupun mendapatkan penyakit yang cocok dengannya, namun kemudian ada penambahan dosis dan aturan pemakaiannya, maka itu akan menggerogoti dan mengganggu kesehatan pasien.”
  4. Tidak boleh berambisi mencari uang. Sarafeddin Sabuncuoglu, seorang ahli bedah di abad ke-15 M, menyarankan agar seorang dokter tidak mengobati penyakit untuk tujuan mendapatkan uang, jika hal itu dilakukan, maka akan menjauhkannya dari keadilan dan kebenaran.
  5. Memiliki sifat sabar. Meski perilaku pasien yang ditanganinya sangat menjengkelkan dan mengganggu, ia harus tetap berusaha mengobatinya dengan penuh kesabaran.
  6. Memberikan rasa optimis kepada pasiennya. Ibnu Shareef, seorang dokter dari abad ke-15 M, mengajarkan bahwa seorang terapis/ahli medis harus mendorong pasiennya untuk bersikap optimis bahwa penyakitnya akan sembuh.
  7. Tidak menerapi pasien hanya sebatas terapi fisik semata dengan menggunakan obat-obatan. Namun haris memasukkan kesejukan pada hati pasien  melalui ucapan-ucapan yang dapat menyegarkan kondisi rohani, menyegarkan gerak badan, dan menepis keresahan dan kegundahan.
  8. Tetap menjaga syariat. Misalnya tidak boleh memberi obat yang haram. Juga harus menjaga hubungan lawan jenis. Jika pasiennya bukan muhrimnya, hendaklah ada pihak ketiga yang menemani. Jangan hanya berdua di kamar pengobatan.

Hmm… bermanfaat sekali bagi saya… bagaimana dengan anda? Semoga bermanfaat.

Terima Kasih!

Jangan berhenti belajar, anak bangsa!

Salam Sejawat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s