Serba – Serbi : PENYAKIT (Intro)

Posted: September 29, 2010 in Kesehatan Gigi Masyarakat

Penyakit, sudah lama hadir di dunia bahkan sebelum manusia datang mungkin.. (hehe.. masak ngga ada brontosaurus apa T-Rex yang ngga pup gara-gara sakit perut? Masak orang purba ngga ada yang pernah cantengan? Apa masuk angin gitu.. kan pada ngga pake baju dan alas kaki? Hehe.. *yang ini ngga wajib dipercaya!*). Anak-anak, remaja, dewasa, sampai lanjut usia pasti kenal dengan penyakit, ada yang sempat berakrab-akrab malah.. hehe.. jadi selain  “perubahan”, saya pikir sesuatu yang kekal di dunia ini juga termasuk “penyakit”.

Apa sih penyakit itu? Seperti apa wujudnya? Bagaimana kita mendefinisikan sebuah penyakit? Siapakah penyakit itu? Andakah penyakit? Sayakah penyakit? *haha..sudah-sudah..*.

Saya bukan seorang ahli penyakit, bukan juga peneliti apa itu penyakit, saya juga ngga terlalu mendalami patologi, meskipun sekali dua kali buka-buka buku patologi juga sih.. (ya sebatas itu,sekali dua kali aja..hehe..), tapi disini saya mencoba berbagi tentang beberapa fakta unik tentang penyakit yang kebetulan saya dapat dari beberapa buku yang saya baca sambil tidur.. (kebiasaan dari SD, yang sering diprotes Ibu saya karena bacanya 5 menit, tidurnya 2 jam..huuffhh..)

Jadi, mungkin saya bisa mulai dari..

Intro

Menurut Nessar Ahmed dkk dalam bukunya, Biology of Disease, penyakit dapat dijabarkan sebagai segala abnormalitas atau kegagalan tubuh untuk berfungsi secara baik dan benar, dan memerlukan perawatan medis untuk mengembalikan fungsi tersebut menjadi lebih baik. Studi ilmiah yang mempelajari per-penyakitan.. (ini bahasa siapa pula..) disebut ilmu patologi.

Dalam dunia kesehatan, diketahui bahwa setiap penyakit memiliki satu set faktor-faktor yang saling terkait keberadaannya, seperti faktor penyebab, gejala-gejala klinis yang menyertai, pola perkembangan penyakit, dan perubahan-perubahan fungsi maupun bentuk yang terjadi pada pasien terkait dengan penyakit yang dialaminya. Adanya abnormalitas saja sebenarnya tidak serta merta menjadi indikasi bahwa seseorang terkena penyakit, kecuali bila ia merasa menderita akibat abnormalitas tersebut. Misalnya, terkadang ada seseorang yang terlahir memiliki tanda lahir berupa pup lalat (hahaha!!tahi lalat maksudnya.. saya tulis gitu biar ngga terkesan jorok bahasanya..) yang berukuran wajar, tapi lebih menonjol dibandingkan jaringan kulit disekitarnya (contoh : punyanya Lari-tidak Mobil-tidak alias RaNo KarNo yang ada di dagunya), sepanjang si pemilik tidak merasa terganggu apalagi menderita akibat pup lalat tersebut, ya tidak langsung dapat didakwa sebagai penyakit.. Lain ceritanya ketika ada pup lalat yang tadinya dimiliki setelah lahir berukuran kecil, namun seiring bertumbuhnya badan dan usia, ukuran pup lalat tersebut membesar, menebal, dan terasa gatal.. nah.. rasa gatal ini dapat dikategorikan sebagai “derita” yang dialami si pemilik pup lalat, dan cenderung dapat diindikasikan sebagai penyakit. Coba bayangkan saja, pup lalat di dekat mata tandanya cantik kata orang, kalau ukurannya kecil dan wajar serta si pemilik tidak merasa terganggu karenanya.. Lha kalo segede kelereng aja.. Hmh..boro-boro cantik.. melihat saja sulit, gatal, dan lain-lain.

Itu kalo penyakit.. Sehat gimana? Apa itu kesehatan? (agak ambigu ya.. tadi kan penyakit.. kata dasar sakit ditambah awalan pe- jadi penyakit.. kalo sehat tambah imbuhan pe- jadi penyehat.. jadi apa itu penyehat??)

Sehat dapat didefinisikan sebagai tidak ditemukannya tanda-tanda maupun gejala-gejala pada sebuah individu yang berkaitan dengan penyakit apapun. Tapi definisi ini punya keterbatasan atau menurut saya sebuah kelemahan ketika ada seseorang yang meyakini bahwa dirinya menderita penyakit tertentu namun tidak sedikitpun ditemukan tanda maupun gejala yang mengacu pada penyakit tersebut. Sebaliknya, ada pula beberapa individu yang merasa bahwa diri mereka sehat dan baik-baik saja padahal pada pemeriksaan detil ditemukan tanda-tanda penyakit yang ngga bercanda alias serius.

Karena kelemahan dan keterbatasan ini, WHO (SIAPA..hash..) atau World Health Organization selaku organisasi kesehatan dunia merumuskan  definisi yang lebih tepat tentang apa itu sehat sebagai sebuah kondisi fisik, mental dan sosial yang baik serta tidak berpenyakit (kurang lebih gini deh pengertiannya, saya juga ngga terlalu hafal..maafkan..).

Jadi ada ide, kalo di negara berkembang (berbunga..haha..) seperti Indonesia ini supaya tergolong memiliki masyarakat yang sehat, dengan cara mempromosikan gaya hidup sehat melalui segala macam media yang bisa ditembus dan menurunkan faktor-faktor mental dan sosial yang berhubungan dengan penderitaan dan penyakit (berat amat kalimatnya..).  (nih sederhananya..) Misalnya, senyum tuh gaya hidup sehat lho.. bayangin, kita senyum sambil  menyapa sekali aja ke orang.. tuh udah bikin yang menerima, siapapun dia, bahagia lho.. (dengan catatan kamu ngga senyum-senyum di depan napi yang baru aja kena vonis hukuman mati lho ya..), bahagia itu awal yang baik buat pikiran,tubuh, dan jiwa manusia untuk berkembang ke arah sehat lho.. kalau mau buka faal lagi, ada yang namanya hormon beta-endorfin yang ter-sekresi akibat kita merasa senang ataupun bahagia, hormon ini fungsinya sangat baik dalam kesehatan tubuh secara global.. coba lihat.. senyum tuh awal yang baik kan?

Ni baru contoh kecil.. contoh besar misalnya lewat TV, Koran, atau Internet dibiasakan menyiarkan informasi yang berimbang..  saya rasa setelah itu kualitas hidup pemirsa akan cukup baik karena kortisol tidak akan ter-sekresi begitu banyak ketika kita menyaksikan berita bahwa ada oknum pejabat negara yang ukuran celananya naik terus dari hari ke hari, sedangkan si fakir mati kering di saluran air.

Oke, kita kembali dulu, jadi tujuan penullisan bab pertama tentang penyakit ini adalah sebagai pembukaan saja tentang dunia penyakit ini, setelah bab ini akan dilanjutkan tentang bagaimana penyakit itu memiliki karakter, memiliki sifat, memiliki ciri, sehingga kita dapat mengelompokkan bermacam-macam jenis penyakit untuk dicari terapi yang tepat. Dalam agama Islam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ماَ أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

“Allah tidak menurunkan penyakit, melainkan pasti menurunkan obatnya”.[HR Al Bukhari no. 5678 dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu .]

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ, فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ

“Setiap penyakit ada obatnya. Jika suatu obat itu tepat (manjur) untuk suatu penyakit, maka akan sembuh dengan izin Allah”. [HR Muslim no. 2204, dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu .]

Setiap individu berbeda dalam fisik dan juga berbagai organ internal dan segala materi biologis yang terkandung di dalamnya. Karena inilah kita perlu memperhatikan beberapa unsur yang membentuk karakteristik suatu penyakit, sehingga pola berpikir kita menjadi lebih tertata dan terintegrasi dalam merunut sebuah penyakit dan menemukan cara mengatasinya.

Sampai jumpa di bab berikutnya : MEMAHAMI KARAKTER PENYAKIT

Terima Kasih!

Jangan berhenti belajar, anak bangsa!

Salam Sejawat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s