Serba – Serbi : PENYAKIT (Memahami Karakter Penyakit)

Posted: Oktober 2, 2010 in Kesehatan Gigi Masyarakat

Setelah sedikit membaca bab sebelum ini yaitu bab intro mengenai penyakit, selanjutnya yang perlu menjadi pemahaman kita bersama adalah bahwa penyakit memiliki cara untuk dikenali melalui pemahaman kita terhadap beberapa ciri dan karakter, atau jika diibaratkan sebagai sebuah smartphone, smartphone memiliki beberapa fitur yang jika kita telaten mengenalinya maka kita mampu menggunakan smartphone.

Setiap penyakit pasti memiliki ciri, pasti berkarakter, pasti bersifat, dan pasti memiliki gejala.. nah inilah yang saya sebut sebagai “fitur”, dan setiap penyakit memiliki beberapa karakter yang spesifik, inilah yang kemudian membuat penyakit dapat dikategorikan sehingga memudahkan proses pengenalannya, diagnosanya, serta manajemennya. Sehingga jika penyakit dapat didiagnosa dengan tepat, maka akan tepat pula perawatan dan terapi yang diberikan.

Dibawah ini beberapa “fitur” yang dapat digunakan dalam mengenali penyakit :

Etiologi

Etiologi, sering kan kita dengar? Penyakit ini etiologinya itu.. penyakit itu etiologinya ini, penyakit anu etiologinya ani.. (upss..).

Yap! Etiologi mengacu pada penyebab penyakit. Kalau sempat baca tentang konsep Host, Agent, dan Environment yang saya tulis disini beberapa bulan yang lalu, etiologi si agent ini dapat berupa endogen atau dari dalam tubuh, atau eksogen yang datang dari luar tubuh. Agent endogen dapat berupa kerusakan genetik dan gangguan hormon, sedangkan agent eksogen dapat berupa mikroorganisme seperti virus, bakteri, dan jamur yang ketiganya dapat menyebabkan infeksi; lalu ada pula berupa bahan kimia, trauma fisik, dan radiasi.

Beberapa penyakit bisa saja memiliki lebih dari satu etiologi dan juga bisa saja disebabkan oleh beberapa faktor. Beberapa penyakit dapat digolongkan ber-etiologi multifaktorial, kalau di kedokteran gigi, misalnya  stomatitis aftosa. Diabetes melitus tipe 2 juga etiologinya multifaktorial karena melibatkan beberapa komponen genetik, pola diet, juga faktor lingkungan.

Banyak juga penyakit yang tidak diketahui penyebabnya atau tidak jelas etiologinya, yang  biasanya kita kenal dengan sebutan idiopatik. Contoh penyakit dengan etiologi idiopatik salah satunya adalah hipertensi, dimana lebih dari 90% dari kasus yang ada ternyata tidak dikenali secara pasti penyebabnya (Biology of Disease, 2007). Perawatan penyakit-penyakit idiopatik biasanya terbatas pada penanggulangan gejala-gejala yang muncul.

Pada beberapa kondisi, ada pula penyakit yang ditimbulkan akibat perawatan atau terapi yang diberikan, kita kenal sebagai iatrogenik (dari bahasa Yunani, bukan Yu Darmi, iatros yang artinya dokter). Misalnya pada perawatan beberapa kanker yang membutuhkan obat-obatan bersifat sitotoksik, dapat menyebabkan anemia iatrogenik meskipun pada dasarnya obat-obatan tersebut dapat menyembuhkan kanker.

Timbulnya sebuah penyakit pada populasi dapat pula dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor, misalnya pola diet tertentu, pola hidup atau pola kerja. Beberapa aspek tersebut kita kenal dengan faktor resiko, merokok  adalah faktor resiko spesifik pada perkembangan kanker paru dan penyakit jantung.

Pada beberapa penyakit, ada faktor resiko yang berperan penting dalam perkembangan penyakit, namun ada pula yang hanya membuat seseorang “lebih beresiko” terkena sebuah penyakit.

Faktor predisposisi.. yak.. sering denger kan? Karies faktor predisposisinya ini.. faktor predisposisi periodontitis itu.. faktor predisposisi abses adalah anu..

Faktor predisposisi adalah beberapa kondisi atau situasi yang menyebabkan seseorang lebih beresiko terkena sebuah penyakit.. hayo.. berarti bisa ngisi kan apa ini-itu-anu diatas? Haha.. bisa lah.. kalian jauh lebih pinter dari saya..

Faktor predisposisi bisa karena faktor usia, jenis kelamin, herediter, dan faktor lingkungan. Misalnya nih.. sistem imun di bayi yang baru lahir kan belum tebentuk sempurna tuh, jadi konsekwensinya si bayi jadi lebih mudah terkena infeksi. Seiring pertumbuhan manusia, ketika seseorang menua juga ternyata mengalami penurunan fungsi imun kan.. nah karena usia menua ini pula maka seseorang lansia pun lebih memiliki resiko terhadap infeksi. Jenis kelamin juga berpengaruh lho.. misalnya pria lebih cenderung memiliki resiko lebih besar terkena gout daripada wanita, sedangkan wanita lebih beresiko osteoporosis dibandingkan pada pria.

Beberapa penyakit malah dapat meningkatkan atau menandakan resiko timbulnya penyakit yang lain. Sering kita kenal istilah premalignant kan?Kondisi pra ganas atau kondisi premaligna adalah kondisi penyakit yang secara klinis belum menunjukkan tanda-tanda yang mengarah pada lesi ganas, namun di dalamnya sudah terjadi perubahan-perubahan patologis yang merupakan pertanda akan terjadinya keganasan, misalnya kondisi yang menandakan seseorang lebih beresiko terhadap kanker, bahkan proses kanker bisa saja sudah berjalan. Peristiwa seperti ini dapat kita lihat pada kasus lesi pra-ganas rongga mulut, antara lain erithroplakia, carsinoma in situ, dan leukoplakia pada rongga mulut.

Ada pula beberapa penyakit yang sebenarnya berasal dari infeksi agent yang secara jati dirinya, agent tersebut tidak bersifat patogen, namun akan menjadi patogen ketika ada kondisi tertentu. Peristiwa semacam ini sering kita kenal dengan istilah infeksi oportunistik, tentunya penyebabnya pun menjadi agent oportunistik.infeksi oportunistik ini dapat terjadi ketika kondisi sistem imun seseorang dalam keadaan yang lemah, sehingga mikroorganisme yang sejatinya tidak bersifat patogen ketika sistem imun baik, maka akan dapat menginfeksi jaringan ketika sistem imun turun. Kita ambil contoh pada kasus AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) yang membuat sistem imun atau sistem kekebalan tubuh penderita menurun, maka dapat dengan mudah kita lihat beberapa populasi candida dalam rongga mulut yang bermanifestasi sebagai candidiasis / oral candidosis.

Patogenesis

Setiap penyakit memiliki sebuah patogenesis yang menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan suatu penyakit, atau lebih spesifiknya, bagaimana agentagent yang menjadi etiologi, menunjukkan perubahan-perubahan klinis dan patologis penyakit tersebut. Contoh dari peristiwa patogenesis adalah ketika adanya reaksi keradangan terhadap adanya agent yang infeksius, adanya peristiwa karsinogenesis yaitu pembentukan jaringan tumor sebagai hasil dari pemaparan bahan karsinogen.

Penyakit-penyakit memiliki “sejarah alami” yang dapat menjelaskan bagaimana biasanya pola progress-nya, efeknya, dan durasi penyakitnya. Efek penyakit pada pasien kita kenal dengan istilah morbiditas. Pada umumnya, morbiditas penyakit dapat  diartikan sebagai segala sesuatu yang berasal dari penyakit yang dapat menyebabkan gangguan atau ketidakmampuan sehingga membuat aktivitas dan kelangsungan hidup terganggu bagi pasien. Sedangkan mortalitas sebuah penyakit menjelaskan tentang kemungkinan sebuah penyakit menyebabkan kematian, biasanya ditunjukkan dengan persentase.

Beberapa penyakit memiliki onset yang cepat yang kita ketahui dengan fase akut, ada pula fase kronis yang tahapan penyakitnya seringkali berjalan dalam waktu yang relatif lebih panjang. Dalam kedokteran gigi pun dikenal ada pulpitis akut yang tentu saja terasa berbeda pada anamnesa pasien dengan pulpitis kronis.

Penyakit-penyakit jarang terjadi segera setelah terjadinya paparan agent etiologinya. Pada banyak kasus, sering kita temui bahwa, dibutuhkan waktu yang dilalui agent etiologi untuk bekerja, yang kita kenal dengan istilah masa inkubasi. Pada karsinogenesis, periode ini dapat berlangsung beberapa tahun dan disebut periode laten. Pada penyakit-penyakit infeksi, waktu antara paparan dan perkembangan penyakit dapat dijadikan ciri khas dari keterlibatan agent infeksi tertentu.

Manifestasi Penyakit

Etiologi penyakit ditambah dengan patogenesisnya menghasilkan manifestasi klinis, yang ditandai dengan adanya gejala dan tanda dari penyakit. Gejala adalah indikasi keberadaan penyakit, dan sesuatu yang dirasakan pasien sebagai kejanggalan (keluhan), misalnya mual, lemas, lesu, nyeri, dsb. Sedangkan tanda adalah segala sesuatu yang diperiksa dan ditemukan oleh dokter/dokter gigi/klinisi pada  pasien terkait daerah yang dikeluhkannya, misalnya apakah ada pembengkakan, kemerahan pada mukosa atau kulit, dsb.

Beberapa penyakit ada yang muncul dengan kategori “subklinis” dimana tanda dan gejala tidak nampak meskipun sudah terjadi penyakit, hal seperti ini biasanya dideteksi dengan melihat karakteristik kimiawi dan perubahan tingkat seluler pada analisa laboratoris, bisa menggunakan sampel darah, atau bisa juga urin.

Tanda dan gejala-gejala klinis sering pula diikuti dengan kelainan struktur atau fungsi, yang kita kenal dengan istilah lesi. Lesi biasanya terjadi pada jaringan yang terlibat dan berkaitan dengan tanda dan gejala yang muncul, misalnya lesi berbentuk deposit pada jaringan seperti lesi putih yang sukar dikerok pada leukoplakia rongga mulut. Ada pula lesi berupa perubahan struktur biokimia seperti hemoglobin yang tidak sempurna pada pasien hemoglobinopati, lesi berupa tumpukan senyawa abnormal pada sel, jaringan dan organ seperti adanya tumpukan amyloid pada pasien Alzheimer.

Yang perlu selalu diingat dan dipahami adalah bahwa manifestasi penyakit pada pasien sifatnya tidak statis dan selalu dipengaruhi oleh mekanisme tubuh sebagai kompensasi pengaruh lingkungannya (dalam hal ini, tubuh) dan dipengaruhi oleh perawatan yang dilakukan terhadap penyakitnya. Penyakit-penyakit sering memiliki jangkauan manifestasi yang beragam sekali dan bisa berbeda dari satu pasien ke pasien lain.

Akhiran sebuah penyakit

Prognosis.. yak inilah yang dimaksud akhiran, ujung perkiraan dari sebuah penyakit. Prognosis dapat berbeda dari pasien satu dan yang lainnya, dan tentunya dipengaruhi oleh perawatan yang diberikan. Pada waktu kita memberikan prognosis terhadap sebuah penyakit, perlu diklarifikasi kembali apakah penyakit tersebut mengikuti pola perjalanan normalnya ataukah ada yang aneh.. nah.. dalam kondisi seperti ini dimungkinkan memerlukan tindakan pemeriksaan lebih lanjut, bisa melalui intervensi medis saja atau bedah bila perlu. Sebagai contoh, misalnya pada kasus campak Jerman (Rubella) akan sembuh dengan sendirinya dalam periode tertentu, tapi  jelas berbeda dengan kasus Fraktur Le-Fort II yang membutuhkan perawatan kompleks kan? Nah disinilah perbedaannya..

Yah.. inilah bagian kedua dari tahapan kita belajar mengenali sebuah penyakit, Insyaallah akan dilanjutkan kembali mengenai KLASIFIKASI PENYAKIT.. doakan saja semoga penulis ngga capek menulis dan berbagi, juga tetap semangat, amien..

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain. (Shahih Muslim No.1352)

Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka … neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat. (HR. Al-Baihaqi)

Terima Kasih!

Jangan berhenti belajar, anak bangsa!

Salam Sejawat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s